13.6.09

Kita yang memilih lingkungan., kemudian lingkungan akan membangun karakter kita

No doubt about it. Tadinya saya adalah tipe orang yang menyepelekan pelajaran, PR, tugas, dan sodara-sodaranya. Sama sekali gak pernah melihat sesuatu dari segi proses. Yang penting hasil akhir. Dan jujur saja dulu saya sering mengutuki orang yang gak mau kasih contekan tugas, yang pelitnya na’udzubillah kalo ditanya pas ujian.

But, guess what?? Sekarang saya bagian dari orang2 seperti itu.!!

Hampir 2tahun bergaul dengan rani dan epha (yang notabene menurut saya termasuk orang yang saklek kalo masalah pelajaran), sedikit banyak mempengaruhi jalan pemikiran saya. Sekarang saya mulai belajar tentang sesuatu yang bernama ‘prioritas’, saya mulai mengurangi intensitas pergaulan bersama orang-orang yang kira-kira tidak bisa memberikan pengaruh positif., saya mulai menghargai sesuatu yang bernama ‘usaha’, saya mulai belajar mengandalkan diri saya sendiri dalam segala hal. Anytime, anywhere.
Sayangnya, tidak semua orang suka dengan perubahan dalam diri saya. Teman2 yang dulu merupakan partner saya dalam melakukan pelanggaran mulai menghindar.
Ketika saya mulai males contek2an pas ujian, mereka bilang saya gak kompak.
Ketika saya meluangkan waktu untuk hal2 penting yang dulu tak pernah terpikirkan, mereka bilang saya sok sibuk.
ketika saya belajar berkata ‘tidak’ ketika ada orang yang berusaha mengambil keuntungan dari kerja keras saya, mereka bilang saya pelit.
Ketika saya mengajak mereka menjadi manusia yang lebih menghargai proses daripada hasil akhir, dalam hati mereka bilang saya basi.
Tapi, siapa peduli?? No matter what they say., this is me., the way I am.
People changes., so do I.
…btw, karena interaksi sedikit banyak mempengaruhi personality., sekarang epha juga ketularan penyakit saya: males-an & telat-an.!!
Kasian….ha5


1 komentar:

  1. Setuju.
    Dan... karaktermu yang malesan itu.. mirip sekali saya. HAHAHAAHAHA.

    BalasHapus

makasih buat komen_nya... (^^,)b